Selasa, 09 Oktober 2012

0 Anak Sekolah Vs Sapi

Sumba masih panas menyengat seperti hari-hari sebelumnya. Saat melewati sebuah gedung SD, segerombolan anak beramai-ramai memanggilku ‘Ibu Islam! Ibu Islam!’. Seketika saya bangga dengan jilbab ini :) . Panggilan polos itu hanya mampu saya jawab dengan senyum dan lambaian tangan, balas menyapa. Mengagetkan, mereka berdatangan menyalamiku sambil berucap ‘Assalamu’alaykum’ dengan logat lucu, malu-malu.
Saya pun menyalami satu persatu anak-anak itu sambil sesekali mengelus rambut merah keriting mereka. Mereka memang anak desa tanpa listrik, lahir dan hidup di Provinsi termisikin di Republik ini. Tapi senyum mereka sama tulusnya dengan senyum anak kecil di manapun. Dengan seragam lusuh, bertelanjang kaki, dan menenteng tas kresek berisi beberapa buku sekolah, mereka berteriak-teriak berdesakan menghampiri saya. Saya pun jatuh cinta lagi :)



Setelah puas berbagi beberapa permen yang ada di tas, saya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan siang itu. Senyum lebar mereka rasanya lengkap ketika mereka berteriak ‘Assalamu’alaykum Ibu Sukma Islam’. hehehe…Saya semakin jatuh cinta sedalam-dalamnya.
Hari itu, target responden saya adalah sebuah rumah tangga yang memiliki 8 orang anak usia sekolah. Keluarga ini adalah keluarga terpandang di kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur. Keluarga ini memiliki jumlah ternak yang luar biasa banyaknya, ada sekitar 300 sapi dan 200 kuda yang mereka urus setiap harinya
Hewan ternak sebanyak itu memang bukan ternak konsumsi. Sapi, kerbau, dan kuda di Sumba menjadi investasi adat yang juga menjadi prestise untuk pemiliknya.
Setelah berkenalan dengan mama pemilik rumah, saya disuguh sirih pinang dan kopi pekat yang masih mengepul. Sampai pada sang mama bercerita, anaknya ada 8 orang. Anak tertuanya usia SMP yang sudah putus sekolah sejak lulus SD. Begitu juga dengan seorang adiknya. Sedangkan 4 anak lainnya sekarang duduk di bangku SD, 2 lainnya masih belum sekolah.
Saya : “kenapa adik-adik tidak melanjutkan sekolah ma? bukankah sekarang SMP pun sudah gratis?”
Mama : “iya, mereka sampai menangis minta masuk SMP. Tapi, kalau anak saya semuanya sekolah, siapa yang urus sapi dan kuda?”
Saya : *terdiam mencoba mengerti, lalu melanjutkan pendataan.
Di Sumba, setiap upacara adat mulai dari perkawinan dan kematian, ada ratusan ekor ternak yang harus disediakan oleh sang punya gawe. Untuk setiap upacara yang diadakan warga, minimal ada 100 ekor sapi dan puluhan kuda untuk jadi syaratnya. Jika syarat belum terpenuhi jumlahnya, upacara adat pun tak akan digelar. Pemuda yang ingin menikah harus lebih bersabar, atau bisa dengan jalan menyicil. Sedangkan jenazah pun harus disimpan dulu, menunggu keluarga mampu menyediakan semua syarat itu.
Kebutuhan adat yang begini besar ternyata menjadi batasan untuk hak pendidikan anak-anak di sana. Para orang tua pun lebih takut tidak bisa menyediakan kebutuhan adatnya daripada anaknya tak sekolah. Sebagian besar masih seperti itu. Semakmur-makmurnya keluarga di Sumba, mainstreamnya masih sama. Sudah bisa baca, tulis dan berhitung, itu sudah cukup.
Pulang dari rumah mama, saya berjalan kaki dan sekali lagi melewati SD yang tadi. Kini sekolah telah sepi ditinggal pulang murid-muridnya.
Saya yakin, semua anak-anak lucu tadi pasti lebih ingin duduk belajar di sekolah daripada menunggu sapi-sapi makan rumput. Saya pun yakin, mereka pasti lebih memilih berseragam putih biru daripada bertelanjang dada sambil memecut ratusan hewan ternak. Tapi ketika mereka dihadapkan pada satu-satunya jalan, menjadi penggembala, mereka pun tak memusuhi si sapi. Mereka akan memastikan sapi-sapinya kenyang sebelum masuk kandang sore nanti.
Perjalanan sore tak begitu terik lagi. Jalanan desa saya susuri sambil sesekali mengarahkan kamera ponsel ke bentangan jalan di depan mata. Sesampai di rumah yang menjadi basecamp kami, saya pun mengirim sms pada mamah di rumah.  “Mah..alhamdulillah yaa.. sayang mamaah :)
Mamah : “kangen yo nduk?”
dalam hati : “sukma, mulai sekarang juga hentikan keluhan tentang apapun”
sumber ; http://soulofsukma.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Sumba timur bercerita Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates