Selasa, 09 Oktober 2012

0 Diskriminasi Dunia Pendidikan

oleh Felix Felicis-Awang Praing (siswa Sma 1 kupang)

Pendidikan merupakan hal yang kompleks bagi kehidupan manusia dan perkembangan peradabannya. Pendidikan tidak saja memainkan peran penting dalam mencerdaskan manusia secera intelektual, tetapi juga merupakan sarana pembentukan sejati berkarakter baik, bermoral, berwawasan luas serta ‘penyetaraan’. Hal yang terakhir ini sangat jarang dibahas. Penyetaraan yang saya maksudkan di sini adalah peran pendidikan dalam memberikan kesamaan dan kesetaraan manusia dalam hal martabat dan kedudukan sosial di masyarakat. Untuk memberi pemahaman kepada teman-teman dan ibu guru mengenai ‘penyetaraan’ yang saya maksudkan, saya mengambil sebiah contoh yang nyata, dahulu pada masa kolonial Belanda, perempuan dilarang bersekolah agar perempuan tidak bisa melawan pemerintah kolonial Belanda layaknya laki-laki. Namun, ketika Raden Ajeng Kartini berjuang untuk pendidikan kaum perempuan, maka lahirlah perjuangaan-perjuangan dari kaum wanita untuk melawan Belanda baik secara diplomatis maupun fisik (pertempuran). Di antara mereka ada Christina Martha Tiahahu, R.A Kartini dan masih banyak lagi. Di sini kita melihat bahwa pendidikan dapat memberikan penyetaraan antara kedudukan perempuan dan laki-laki.
Namun, bagaimana jika pendidikan dianggap sebagai sarana meninggikan diri bukan untuk tujuan mulia untuk memajukan bangsa ini? Inilah fenomena yang sering dihadapi dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini. Pelaku pendidikan kadang saling tidak menghargai dan menganggap dirinya tinggi karena gelar akademik yang disandangnya atau karena jurusan/progdi pilihannya merupakan jurusan favorit. Pendidikan tidak lagi difungsikan sesuai dengan tujuan utama pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang seharusnya menjadi sarana penyetaraan umat manusia malah menjadi sarana untuk menindas dan merendahkan sesama. Orang yang bergelar tinggi tidak menghargai orang lain yang mempunyai gelar di bawahnya atau mungkin tidak bergelar akademik. Tindakan-tindakan ini kita kenal dengan istilah yang disebut DISKRIMINASI.



Dalam membahas masalah ini lebih dalam, maka ada baiknya saya akan melihat dari lingkungan kehidupan kita sebagai pelaku pendidikan di SMA. Diskriminasi di SMA bukanlah hal baru, malah telah menjadi fenomena lama yang tidak pernah disadari oleh pelakunya Jurusan sering menjadi tolak ukur pandangan seorang guru terhadap siswa. Sehingga terkesan guru itu pilih kasih terhadap siswanya. Jurusan yang paling sering didiskriminasi adalah jurusan IPS, sering dianggap memiliki masa depan suram karena lapangan pekerjaan yang tersedia sedikit, kumpulan anak-anak nakal dan tidak bisa diatur. Jurusan Bahasa sering dianggap sebagai jurusan “buangan” yang anak-anaknya tidak mampu di IPS maupun IPA. Sedangkan jurusan IPA dianggap sebagai kumpulan anak-anak jenius bermasa depan cerah, dan kumpulan anak-anak alim. Yang lebih parah lagi, kadang statment tersebut kelur dari mulut seorang guru. Padahal menrurt Dorothy Law, seorang pakar psikologi terkenal masa ini, bahwa statement yang keluar dari mulut orang-orang terdekat sorang siswa seperti teman, guru dan orang tua, sangat mempengaruhi kejiwaan dan keberhasilan siswa, sehingga kata-kata yang keluar harusnya kata-kata yang membangun bukan MENJATUHKAN atau MENGHINA. Itu malah akan membentuk siswa menjadi nakal, bahkan brutal. Menurut Dorothy Law, tindakan-tindakan yang membagi-bagi kasih sayang bagi siswa itu merupakan diskriminasi. Malah secara psikologi, tindakan itu tergolong kajahatan karena merusak karakter dan masa depan siswa. Guru yang adalah pembentuk karakter dan fasilitator dalam dunia pendidikan TIDAK PANTAS melakukan tindakan diskrimatif tersebut.
Saya masih mengingat kata-kata seorang guru favorit saya, “Jika anda ingin menjadi seorang pemimpin sukses belajarlah ilmu sosial, jika anda ingin menjadi orang ilmuwan belajarlah ilmu alam, jika anda ingin menjadi orang bebas berkarakter belajarlah ilmu lingusitik (bahasa). Belajar sesuai potensi dan prospek yang anda bukan sekedar ikut-ikutan”.  Kata-kata guru saya ini, benar-benar membuka mata saya bahwa pendidikan bukan formalitas namun suatu sarana pembentuk karakter dan potensi manusia. Setiap ilmu memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan manusia. Saling melengkapi, sama derajat dan sama pentingnya. Tanpa ilmu alam tidak akan ada teknologi yang membantu kehidupan manusia. Tanpa ilmu sosial tidak akan ada pemerintahan/kepemimpinan yang berkarakter baik. Dan tanpa ilmu lingustik maka tidak akan ada komunikasi yang baik dan benar, sebab semua ilmu tidak bisa menjelaskan bahasa, namun bahasa menjelaskan semua ilmu” Ini jelas bahwa keselarasan dunia pendidikan tidak bisa dibentuk oleh satu ilmu saja
Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa Indonesia kebutuhan ahli medis di Indonesia meningkat 14% tiap tahunnya sedangkan jumah dokter tidak memenuhi jumlah minimal.  Kementerian Pariwisata mengatakan bahwa potensi wisata Indonesia yang besar tidak sebanding dengan jumlah Tour Guide di Indonesia dan ahli antropologi yang dapat menggali potensi-potensi wisata budaya lainnya. Kementerian Luar  Negeri pun akhir-akhr ini sedang kewalahan karena kekurangan diplomat. Tenaga Kementerian Tenaga Kerja menyatakan bahwa kebutuhn akuntn public maupun pernakan Indonesia sangat tinggi sedangkan lulusan SMA IPS dan SMK Akuntansi semakin berkurang seiring animo masyarakat yang tinggi ke IPA.  Semua itu fakta yang terhimpun dari data-data yang temuat di website resmi kementerian-kementerian terkait. Dan itu secara jeas membukikan bahwa semua ilmu itu DIBUTUHKAN.
Saya rasa jangan ada lagi diskriminasi dalam dunia pendidikan. Merubah pandangan akan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan itu untuk kesetaraan bukan penindasan. Hal-hal berbau diskriminatif dalam dunia pendidikan tidak selayaknya dipertahankan dan dibiarkan membudaya. Hendaknya pelaku pendidikan jangan hanya menjadi penonton, namun giat dan untuk sebuah reformasi dalam diri sendiri  dan bagi lingkungan kita masing-masing. Maju dunia pendidikan Indonesia. Stop diskriminasi dunia pendidikan.!!!

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Sumba timur bercerita Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates